Halaman

Asal-usul istilah tashawuf dan pengertiannya secara luas

Tidak ada komentar:
Ada banyak istilah yang dikemukakan untuk mencari asal-usul istilah tashawuf, diantaranya; suffah, shaf, shafa, shopos, shaufanah, shafwah dan shufwu (tashawafa). Setelah diselidiki, ternyata secara harfiah yang paling tepat adalah kata terakhir, tashawwafa (memakai baju dari kulit domba).

Secara luas pengertian tashawuf berbeda antara satu ahli dengan lainnya tergantung pengalaman dan rasa yang telah mereka dapatkan dari bertashawuf. Maka para ahli mencoba membagi definisi ini pada tiga kategori utama; al-bidayah: definisi tasawuf yang masih dalam tingkat permulaan, al-mujahadah; definisi yang menyatakan bahwa tashawuf adalah kegiatan dan kesungguhan dari salik dan al-madzaqah; berisi definisi yang berisi pengalaman dan rasa seorang sufi, seperti al-hallaj,IbnuAraby,dll

Hikmah ke 1 (tentang berserah diri)

Tidak ada komentar:

مِنْ عَلامَةِ الاعْتِمادِ عَلى العَمَلِ نُقْصانُ الرَّجاءِ عِنْدَ وُجودِ الزَّللِ

Salah satu tanda bergantungnya seseorang kepada amalnya adalah kurangnya raja’ (harapan terhadap rahmat Allah) tetkala ia mengalami kegagalan (dosa)
Dalam perjalanan menuju rido-Nya pertama-tama harus diawali dengan niat yang lurus, sebab tanpa niat yang lurus mustahil sebuah amalan akan sampai kepada-Nya, jangan sampai dalam hati menyimpain niat kepada selain-Nya, sebab itu merupakan tandanya orang yang musrik. oleh karna itu kedudukan niat dalam islam adalah nomor satu. Syekh Ibnu 'Atha'illah disini mengingatkan kepada kita supaya meraih keridoan-Nya, maka kita diwajibkan untuk beramal. Tetapi pada waktu yang bersamaan diwajibkan pula pada kita untuk tidak menyandarkan diri pada amal semata, semua ini dimaksudkan agar dapat sampai kepada keridoan-Nya.

Batapapun seorang muslim itu telah melaksanakan suatu amalan, ia tidak akan pernah mampu untuk memunaikan apa yang menjadi hak Allah secara utuh. Juga ia tidak mungkin mampu melakukan seluruh kewajiban secara sempurna sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya. Jika seseorang menggantungkan diri terhadap amalannya maka ia akan merasa putus asa ketika mengalami kegagalan, dan hal seperti ini merupakan bentuk jiwa yang bodoh dan lalai.

oleh karena itu Syaikh Ibn 'Atha'illah rahimahullah berkata. "Salah satu tanda dari orang yang menyandarkan diri pada kekuatan amal usahanya semata adalah berkurangnya raja' (harapan terhadap rahmat dan karunia Allah Ta'ala) ketika dia melakukan kesalahan (dosa), atau tidak tercapainya suatu tujuan".

Ini sesuai dengan sabda nabi SAW
"berlakulah kalian seteoat dan secermat mungkin, Sebab ketahuilah bahwa amal shaleh seseorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam syurga"
Mereka (para sahabat) bertanya, Lalu bagaimana dengan Anda, wahai Rasulullah?
beliau menjawab, Aku juga, hanya saja Allah meliputiku dengan ampunan dan kasih sayang (rahmat)-Nya, (Diriwayatkan oleh enam imam hadits) 
Allah Ta'ala berfirman, yang artinya:
"inilah merupakan karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau justru mengingkari (nikmat-nikmat-Nya). barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia (an-Naml:40)"

Pagi Ini (Jiwa Muda)

Tidak ada komentar:
Pagi ini adalah pagi bukan siang, pagi ini bukan pagi kemaren ataupun pagi besok, pagi ini adalah pagi yang sedang saya miliki, karena pagi yang kemaren sudah saya lalui dan pagi yang esok adalah pagi yang masih menjadi misteri bagiku. nikmati saja pagi ini dengan segenap hati agar tidak menyisakan penyesalan di pagi esok. pagi ini harus di jadikan modal kebahagiaan untuk pagi esok, cara membahagiakan pagi yang esok adalah dengan bekerja keras di pagi ini kemudian di iringi dengan doa yang tulus.

mungkin ketika berbicara dengan pagi, akan memiliki makna konotasi dengan jiwa muda. jiwa muda memiliki semangat yang kuat dan impian yang besar adalah merupakan tanda cemerlangnya siang hari, siang hari di sini memiliki konotasi usia tua. ketika suasana siang hari ditentukan oleh pagi hari, maka begitu juga dengan masa tua, masa tua tersebut ditentukan nasibnya oleh kita ketika berada di masa remaja.
tetap semangat untuk menjemput hari yang selanjutnya, bersemangat untuk meraih masa depan, termasuk masa senja, yaitu masa di mana sebentarlagi akan terjadinya tenggelamnya sang surya di ufuk sana. masa senja ini memiliki konotasi dengan masa kakek-kakek. yaitu masa yang pada dasarnya sebentar lagi mengalami kematian (tenggelamnya sang surya). Jadi bisa disimpulkan dari kata bersiaplah untuk pagi ini dengan berbagai usaha demi meraih sebuah cahaya mentari, agar tidak ada lagi keraguan yang diakibatkan dari sebuah kegelapan berupa kebodohan.